Genre: Drama
Release date : 25 September 2014
Directed by : Adriyanto Dewo
Written by : Tumpal Tampubolon
Produced by : Sheila Timothy
Executive Producers : Luki Wanandi, Arpin Wiradisastra, Meiriana Soetoyo, Wandi Wanandi, Herman S. Silalahi
Associate Producer : Vino G. Bastian
Director of Photography : Amalia TS
Editor : Dinda Amanda
Music Director : Lie Indra Perkasa
Art Director : Iqbal Marjono
Sound Designer : Adityawan Susanto
"Makanan adalah itikad baik untuk bertemu."
Tabula Rasa adalah istilah dalam Bahasa Latin yang berarti 'kesempatan untuk memulai sesuatu yang baru dengan tanpa prasangka', Kondisi inilah yang dialami oleh Hans (Jimmy Kobogau), pemuda asal Serui, Papua yang sebenarnya memiliki cita-cita untuk menjadi pemain sepakbola nasional namun takdir berkata lain. Ia dibuang klub tempatnya bernaung karena enggan membiayai operasi patah kaki yang dialami oleh Hans. Hans pun terpaksa bekerja serabutan dengan menjadi kuli panggul di pasar hingga tidur di jalanan.
Ketika putus asa dan hendak bunuh diri, disinilah ia bertemu dengan Mak (Dewi Irawan) yang hendak belanja ke pasar. Dengan bantuan Natsir (Ozzol Ramdan), Hans pun dibawa ke rumah makan Padang milik Mak yaitu Takana Juo dan disuguhi dengan Gulai Kepala Ikan oleh Mak.
Sayang, kedatangan Hans tidak mendapat sambutan baik dari Parmanto (Yayu Unru), sang juru masak di rumah makan itu. RM Takana Juo yang ternyata memiliki masalah finansial akibat sepinya pengunjung dan kehadiran Rumah Makan Padang yang jauh lebih besar di daerah tersebut. Namun, Mak tetap bersikeras untuk mengajak Hans bekerja di RM Takana Juo, entah sekedar membantu berbelanja ke pasar, atau membereskan rumah makan.
Meskipun jajaran pemeran film ini tidaklah se 'wah' beberapa film lain, namun performa para pemain serta chemistry yang terbangun diantara para pemain di film sungguh memesona saya. Akting Dewi Irawan sebagai Mak dan Jimmy Kobogau sebagai Hans pun patut diacungi jempol. Tema kuliner dan keberagaman yang jarang diangkat ke dalam film pun dapat disampaikan dengan baik oleh Adriyanto Dewo dalam debutnya ini. Anda pun akan dimanjakan dengan pengambilan gambar yang sangat indah di film ini, terutama gambar-gambar makanan yang disuguhkan film ini. Dijamin, anda akan langsung tergugah untuk menyantap makanan Padang.
Saya jelas lebih merekomendasikan film ini ketimbang Annabelle yang menurut pendapat orang buruk. Menurut saya inilah film Indonesia kedua terbaik di 2014 (setelah Cahaya Dari Timur yang bikin saya sesenggukan, tentunya) untuk genre drama. Semoga saja film ini nggak cepet turun dari bioskop.
Rate: 4,5/5.




No comments:
Post a Comment