Wednesday, October 8, 2014

Review Haji Backpacker (2014): Road Movie Berbau Religi


Jenis Film : Drama
Produser : HB Naveen, Frederica
Produksi : Falcon Pictures
Sutradara : Danial Rifki
Durasi: 107 menit

Mungkin inilah film yang paling ditunggu ketika Idul Adha tiba. Trailer dan promosinya yang sangat gencar (bahkan proses syutingnya diliput secara ekslusif oleh detikcom) memang sukses membuat penonton penasaran dengan film ini. Apalagi judulnya pun terdengar catchy.

Film ini berkisah tentang Mada (Abimana Aryasatya), seorang pria yang memberontak kepada Tuhan dan orangtuanya atas takdir yang ia terima. Merasa kecewa, Mada memilih untuk berkelana ke Thailand dan hidup bebas sebagai backpacker. Selama di Thailand, Mada tinggal bersama Marbel(Laudya Cynthia Bella), pemijat asal Indonesia. Namun, kehidupan Mada di Thailand berujung pada sebuah masalah besar yang memaksanya untuk kabur ke Vietnam.

 

Tanpa uang yang cukup, Mada terpaksa bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di Vietnam, sebelum akhirnya dengan cara yang tidak terduga sampai ke China dan bertemu dengan Suchun (Laura Basuki), gadis muslim yang merupakan anak dari Imam dari Masjid di Desa tersebut. Pertemuannya dengan Suchun lah yang menjadi titik balik kehidupan Mada.

Lalu apa yang menyebabkan Mada begitu kecewa pada Tuhan?

Jujur, film ini jauh dibawah ekspektasi saya. Konflik yang dihadirkan di film ini terasa kurang dalam. Selain itu, perjalanan Mada untuk mencapai Mekkah pun terkesan lancar-lancar saja bak Bundaran HI pada pukul 02.00 pagi.

Sekali lagi, Danial Rifki gagal memenuhi ekspektasi saya, sebelumnya La Tahzan (2013) pun terkesan hambar. Kualitas akting seluruh pemainnya lah yang menyelamatkan film ini. kredit pantas diberikan kepada Abimana Aryasatya, Dewi Sandra (Sofi), Laudya Cynthia Bella, dan Laura Basuki . Beberapa adegan yang ditampilkan pun untungnya cukup memorable, seperti ketika Mada harus membaca Al-Quran demi menyelamatkan nyawanya sendiri, serta ketika Mada tiba di pemakaman para jamaah haji. Porsi dari Suchun dan Marbel seharusnya lebih besar ketimbang hanya menjadi 'pelengkap; dari perjalanan Mada menuju Tanah Suci). Sebagai Road Movie semi religi, film ini masih layak ditonton karena ada banyak kutipan yang menarik. Setidaknya pesan yang hendak disampaikan masih bisa dicerna dengan baik oleh khalayaknya.
 
(+) Pemandangan indah tiap negara yang berhasil ditampilkan
(+) Kualitas akting dari Abimana Aryasatya yang mumpuni

(+) Laura Basuki
(+) Dewi Sandra yang Subhanallah

(-) Kebanyakan timelapse yang membuat bosan
(-) CGI balon udara yang mengingatkan saya kepada kualitas grafis dari Suikoden (PSX)
(-) Ending, gitu doang woy?

Review Tabula Rasa(2014): Makanan Adalah Itikad Baik Untuk Bertemu


Genre: Drama
Release date : 25 September 2014
Directed by : Adriyanto Dewo
Written by : Tumpal Tampubolon
Produced by : Sheila Timothy
Executive Producers : Luki Wanandi, Arpin  Wiradisastra, Meiriana Soetoyo, Wandi Wanandi, Herman S. Silalahi
Associate Producer : Vino G. Bastian
Director of Photography : Amalia TS
Editor : Dinda Amanda
Music Director : Lie Indra Perkasa
Art Director : Iqbal Marjono
Sound Designer : Adityawan Susanto




"Makanan adalah itikad baik untuk bertemu."

Tabula Rasa adalah istilah dalam Bahasa Latin yang berarti 'kesempatan untuk memulai sesuatu yang baru dengan tanpa prasangka', Kondisi inilah yang dialami oleh Hans (Jimmy Kobogau), pemuda asal Serui, Papua yang sebenarnya memiliki cita-cita untuk menjadi pemain sepakbola nasional namun takdir berkata lain. Ia dibuang klub tempatnya bernaung karena enggan membiayai operasi patah kaki yang dialami oleh Hans. Hans pun terpaksa bekerja serabutan dengan menjadi kuli panggul di pasar hingga tidur di jalanan.

Ketika putus asa dan hendak bunuh diri, disinilah ia bertemu dengan Mak (Dewi Irawan) yang hendak belanja ke pasar. Dengan bantuan Natsir (Ozzol Ramdan), Hans pun dibawa ke rumah makan Padang milik Mak yaitu Takana Juo dan disuguhi dengan Gulai Kepala Ikan oleh Mak.


Sayang, kedatangan Hans tidak mendapat sambutan baik dari Parmanto (Yayu Unru), sang juru masak di rumah makan itu. RM Takana Juo yang ternyata memiliki masalah finansial akibat sepinya pengunjung dan kehadiran Rumah Makan Padang yang jauh lebih besar di daerah tersebut. Namun, Mak tetap bersikeras untuk mengajak Hans bekerja di RM Takana Juo, entah sekedar membantu berbelanja ke pasar, atau membereskan rumah makan.


Meskipun jajaran pemeran film ini tidaklah se 'wah' beberapa film lain, namun performa para pemain serta chemistry yang terbangun diantara para pemain di film sungguh memesona saya. Akting Dewi Irawan sebagai Mak dan Jimmy Kobogau sebagai Hans pun patut diacungi jempol. Tema kuliner dan keberagaman yang jarang diangkat ke dalam film pun dapat disampaikan dengan baik oleh Adriyanto Dewo dalam debutnya ini. Anda pun akan dimanjakan dengan pengambilan gambar yang sangat indah di film ini, terutama gambar-gambar makanan yang disuguhkan film ini. Dijamin, anda akan langsung tergugah untuk menyantap makanan Padang. 

Saya jelas lebih merekomendasikan film ini ketimbang Annabelle yang menurut pendapat orang buruk. Menurut saya inilah film Indonesia kedua terbaik di 2014 (setelah Cahaya Dari Timur yang bikin saya sesenggukan, tentunya) untuk genre drama. Semoga saja film ini nggak cepet turun dari bioskop.

Rate: 4,5/5.