Thursday, July 6, 2017

Spider-Man Homecoming (2017)


Sutradara: Jon WattsRumah Produksi: Marvel Studios & Sony PicturesRilis: 5 Juli 2017 (Indonesia)Pemain: Tom Holland, Robert Downey Jr., Michael Keaton, Marisa Tomei, Jon Favreau, Laura Harrier, Zendaya, Jacob Batalon, Tony Revolori.

Setelah memulai debutnya di Captain America: Civil War, akhirnya film solo Spider-Man yang berjudul Spider-Man Homecoming dirilis juga. Film ini sudah ditunggu-tunggu sejak Marvel dan Sony mengumumkan kerjasamanya untuk mengembalikan karakter-karakter yang terlibat di dalam komik Spider-Man ke dalam MCU. Seperti apa hasilnya?

Film ini mengambil latar cerita beberapa bulan setelah kejadian di Civil War, Peter Parker (Tom Holland) sangat menantikan panggilan dari Tony Stark (Robert Downey Jr.) untuk kembali beraksi bersama Avengers, sambil menjalani kehidupannya sebagai anak SMA bersama teman baiknya Ned (Jacob Batalon), masalah muncul ketika Peter berusaha menghentikan aksi perampokan ATM dan dikalahkan oleh senjata yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Selain itu, Peter juga menyimpan rasa terpendam kepada seniornya di sekolah, yaitu Liz (Laura Harrier).

Berbeda dengan Spider-Man versi Tobey Maguire yang melankolis dan versi Andrew Garfield yang memberi porsi cinta-cintaan yang terlalu banyak, Spider-Man Homecoming mengangkat high school drama yang belum pernah dieksplor sebelumnya, Asal muasal Spider-Man dari digigit laba-laba hingga kematian Uncle Ben pun tidak ditampilkan karena cerita film dimulai setelah Peter Parker menjadi Spider-Man.

Tom Holland berhasil memainkan kedua sosok Peter Parker dan Spider-Man dengan luwes, sifat lugu, sok tahu, nerdy, banyak omong,  pintar namun ceroboh berhasil ditampilkan dengan baik. Jacob Batalon juga berhasil menjadi sosok yang ternyata lebih dari sekadar pelengkap. Robert Downey Jr. (yang diprotes karena kebanyakan muncul di trailer) serta Jon Favreau mendapatkan porsi yang pas, Laura Harrier tampil memukau sebagai love interest dari Peter Parker. Sayangnya, porsi Marisa Tomei (untung cantik jadi gapapa) dan Zendaya menurut saya terlalu sedikit, meskipun tetap membuka ruang untuk film selanjutnya, Michael Keaton tampil sangat intimidatif sebagai penjahat utama meskipun penjahat lainnya kurang tereksplorasi. Serta ada beberapa cameo yang saya rasa lebih baik kalian tahu ketika menyaksikan filmnya.

Banyak easter eggs yang akan memanjakan para penggemar komiknya, dari karakter, dialog, sampai kostum yang ditampilkan sepanjang film. Oleh karena itu, jangan sampai lengah ketika menyaksikan film ini.

Overall film ini sangat layak untuk ditonton penggemar film superhero. Hal terbaik yang dilakukan oleh film ini adalah berhasil membuat sesuatu yang baru dari film yang telah mengalami reboot untuk kedua kalinya. Meskipun buat saya, hal terbaik di film ini adalah ketika Liz memakai pakaian renang dan Aunt May mengajari Peter berdansa.

Penampil Terbaik di Spider-Man Homecoming versi saya, he



9/10

Monday, February 22, 2016

Test

Thursday, February 11, 2016

Deadpool (2016)

Deadpool 
(2016 - 20th Century Fox & Marvel Enterprises)
Director: Tim Miller
Screenplay: Rhett Rees & Paul Wernick
Cast: Ryan Reynolds, Morena Baccarin, T.J. Miller, Ed Skrein, Brianna Hildebrand, Gina Carano, Michael Benyaer, Stefan Kapicic, Karan Soni.


Sebagai pembuka parade film superhero yang akan tayang di layar lebar tahun ini, Deadpool berhasil menetapkan standar tinggi bagi film superhero lainnya. Paduan unsur aksi dan humor (yang sangat kasar) berhasil diramu dengan baik oleh Tim Miller di film yang berdurasi 108 menit ini.

Bercerita tentang mantan anggota pasukan khusus yang kini menjadi seorang mercenary(tentara bayaran) yaitu Wade Wilson (Ryan Reynolds) yang didiagnosa menderita kanker sehingga terpaksa meninggalkan kekasihnya Vanessa (Morena Baccarin) demi mengikuti proses penyembuhan yang dilakukan oleh Ajax (Ed Skrein). Namun, proses penyembuhan tersebut malah merusak seluruh tubuh termasuk wajahnya. Atas alasan tersebut, Wilson menuntut balas terhadap Ajax atas kerusakan yang terjadi pada tubuhnya.

Dengan premis sesederhana itu, Tim Miller berhasil membuat hiburan yang berhasil memuaskan para penggemar Deadpool yang sudah menunggu sejak tahun 2014. Ryan Reynolds, yang sebelumnya memerankan Wade Wilson di X-Men Origins: Wolverine berhasil menghidupkan karakter tersebut layaknya Robert Downey Jr. dalam memerankan Tony Stark di Marvel Cinematic Universe. Morena Baccarin(yang sekilas mengingatkan saya kepada Famke Janssen) juga  amat manis dalam memerankan Vanessa. 

Humor yang ditampilkan pun berhasil membuat seisi teater tempat saya menonton tertawa, dari referensi mengenai The Avengers & Green Lantern (yang juga diperankan oleh Ryan Reynolds pada tahun 2011), joke Sinead O'Connor, interaksi dengan sopir taksi yang ia tumpangi, 'cameo' singkat Hugh Jackman, breaking the 4th wall (seperti yang dilakukan di komik), hingga menyebutkan Batman & Robin di dialognya, semua berhasil dilahap dengan baik oleh para penonton.

Namun bukan berarti film ini tidak memiliki kekurangan, menurut saya Blind Al dan Weasel seharusnya mendapat porsi screen time lebih, terutama Blind Al yang meskipun singkat, penampilannya berhasil mencuri perhatian. Selain itu villain yang ditampilkan pun terkesan tidak terlalu kuat. (mau nanya, itu Angel Dust akhirnya kemana?).
 
Sebagai sebuah film, Deadpool adalah film yang sangat menghibur dan cukup memorable, dan pada akhirnya, film ini tidak hanya menyelamatkan karakter Deadpool (yang memungut kepalanya sendiri di after credit scene X-Men Origins: Wolverine), tapi juga menyelamatkan wajah 20th Century Fox yang sebelumnya tercoreng dengan buruknya Fantastic Four (2015) yang mendapat tanggapan negatif dari para fans. Well, good luck untuk Batman V Superman: Dawn of Justice, Captain America Civil War, X-Men Apocalypse, Suicide Squad, dan Dr. Strange, kalian punya standar tinggi yang harus dilewati.


RATING: 9/10 


Bonus untuk kalian
.
.
.
.
.
.
TADAA
 
















Tuesday, August 25, 2015

Karena Hidup Harus Terus Berjalan

Setelah menjalani kehidupan sebagai seorang mahasiswa broadcast selama 3 tahun, akhirnya pada tanggal 29 Agustus 2015 nanti, saya akan menjalani prosesi wisuda. Saya pun akan hijrah ke jenjang selanjutnya, yaitu ekstensi S1 di universitas yang sama.

Meskipun saya belum mau berpisah dengan teman-teman yang baru saya temui 3 tahun lalu ini, namun pada akhirnya, takdir memutuskan saya untuk melanjutkan kehidupan. Sudah kodratnya bahwa dalam kehidupan, setiap pertemuan harus diakhiri dengan perpisahan.

Gladiresik pake toga dulu, bro

---------------



Seperti apa yang terjadi pada 3 orang pemain yang telah berganti kostum pada musim 2015-16 yaitu Steven Gerrard, Iker Casillas, dan tentu saja yang terbaru Pedro Rodriguez. Pada 7 Januari 2015 lalu, teka-teki seputar masa depan eks kapten Liverpool tersebut akhirnya terjawab setelah LA Galaxy mengumumkan bahwa mereka telah mengontrak Steven Gerrard selama 18 bulan sebagai Designated Player.  Tentunya tidak mudah bagi Gerrard untuk meninggalkan klub yang telah ia bela sejak berusia sembilan tahun. Namun, Gerrard akhirnya memutuskan hijrah dari klub yang telah memberinya medali Liga Champions pada 2005 tersebut.

Begitu pula dengan Iker Casillas, rumor bertubi-tubi seputar kedatangan David De Gea ke Real Madrid serta menurunnya performa di lapangan dalam beberapa musim terakhir membuat Iker Casillas 'terusir' dari klub dan menerima pinangan raksasa Portugal, FC Porto. Iker Casillas mau tak mau harus meninggalkan klub yang membesarkan namanya tersebut dan menyeberang sejauh 561,2 km ke kota Porto (Fyi, jarak antara Madrid-Porto hampir setara dengan jarak Bandung ke Klaten).

Yang terakhir adalah Pedro Rodriguez. Menit bermain yang berkurang drastis sejak kedatangan Luis Suarez serta keinginan untuk mencari tantangan baru setelah memenangkan 20 trofi selama masa baktinya di Barcelona membuatnya 'hijrah' ke London setelah menerima tawaran dari Chelsea. Pedro pun meninggalkan klub asal Katalan tempatnya memulai karier profesional sejak tahun 2005 tersebut.

Baik Gerrard, Casillas, Pedro mungkin menyadari bahwa terkadang manusia harus keluar dari zona nyamannya dan mencoba tantangan baru dalam hidupnya, Gerrard ingin merasakan tantangan baru setelah menjadi kapten bagi Liverpool sejak tahun 2003, serta Casillas dan Pedro yang enggan dicadangkan dan telah memenangkan nyaris semua gelar bersama klub lamanya masing-masing. Tentu tidak mudah melupakan kenangan bersama klub lama mereka, apalagi ketiga pemain tersebut telah menghabiskan waktu lebih dari 10 tahun bersama klub mereka masing-masing.

Apabila mengingat apa yang dirasakan Gerrard, Casillas, Pedro, serta beberapa pemain lain seperti Xavi dan Schweinsteiger yang keluar dari zona nyamannya untuk mencoba hal baru dalam hidupnya. Rasanya perpisahan yang akan saya alami bukanlah hal yang terlalu besar untuk dibahas. Toh, saya masih bisa bertemu dengan mereka di waktu senggang. Selain itu, hidup pun harus tetap berjalan sebagaimana mestinya.

---------------

Akhirnya, setelah selesai menjalani proses wisuda pada tanggal 29 Agustus nanti, pada tanggal 31 atau tepat dua hari setelahnya, saya akan memulai kehidupan baru sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Kira-kira, apa rasanya bertemu teman baru setelah beberapa hari sebelumnya berpisah dengan teman lama? Mungkin saya bisa bertanya kepada Pedro yang langsung menjalani debutnya bersama Chelsea 3 hari setelah kepindahannya dari Barcelona.

Wednesday, December 31, 2014

Film terbaik di 2014: My Version

Hai karena hari ini adalah hari terakhir di tahun 2014 yang menurut saya begitu melelahkan, saya hendak memberikan beberapa daftar 5 besar Film yang menurut saya terbaik di 2014 ini, mari:

FILM LOKAL:
1. Cahaya Dari Timur
2. Tabula Rasa
3. Pendekar Tongkat Emas
4. Mari Lari
5. The Raid 2 Berandal
Honorable Mention: Bajaj Bajuri

FILM LUAR:
1. Guardians Of The Galaxy
2. X-Men: Days Of Future Past
3. Gone Girl
4. 22 Jump Street
5. Hercules
Honorable Mentions: Stand By Me Doraemon, The Interview, Let's Be Cops, Maze Runners.

SIGAPP88: 10 November 2010-31 Desember 2014

Hari ini, adalah hari terakhir #SIGAPP88 mengudara. Banyak banget kenangan gue selama dengerin mereka. Dari mulai ngumpet-ngumpet dengerin mereka setiap pagi sejak kelas 2 SMA, sampe nemenin gue berangkat ke kampus dua tahun terakhir. Dari jamannya mereka masih bertiga (Rico, Surya, Molan, operator Erlan dan produser Jarot), ngeluarin single Sayang Kalian pas ulang tahun pertama. Ganti operator jadi Felix, ganti produser ke Lia terus Mudrikha, siaran di Tebet (FYI, gue pernah dianterin Molan sampe Margonda abis siaran di Tebet karena doi mau syuting ke Depok, ehe) ditinggal Rico Ceper ke Global FM awal tahun ini, ikut ke Trans Studio Bandung bareng mereka (tau menangnya h-1 acara h3h3) sampe mereka bantuin UTS gue kemaren.
 
Poster awal SIGAPP88


Banyak banget deh pokoknya memori gue bersama mereka, mulai dari dengerin mereka sandiwara radio bareng neneng, wa oji, profesor, uwak, markus, belang, marzuki, dll. on air di bajaj, mesen makanan secara on air, wawancara tukang nasi uduk, telpon asal(nelpon pembuat alat pemecah telor, LOL), masak di studio, karaoke, sampe di komputer gue banyak file rekaman siaran mereka dari tahun 2012, dan tetep bikin ngakak kalo didengerin.

Potret kegilaan SIGAPP88 2010-2014:














Nah kalo ini pas gue ikut berangkat bareng mereka ke Trans Studio Bandung pas #SIGAPP88Cabut:

 
 


Akhirnya kebersamaan mereka di #SIGAPP88 harus berakhir, mereka bakalan pindah ke MorningZone nya 101,4 Trax FM per 5 Januari 2015 T_T

 Yaudah lah ini aja persembahan dari saya pendengar setia kalian dari 2010, good luck di tempat barunya, saya ikutan kok :p

Wednesday, October 8, 2014

Review Haji Backpacker (2014): Road Movie Berbau Religi


Jenis Film : Drama
Produser : HB Naveen, Frederica
Produksi : Falcon Pictures
Sutradara : Danial Rifki
Durasi: 107 menit

Mungkin inilah film yang paling ditunggu ketika Idul Adha tiba. Trailer dan promosinya yang sangat gencar (bahkan proses syutingnya diliput secara ekslusif oleh detikcom) memang sukses membuat penonton penasaran dengan film ini. Apalagi judulnya pun terdengar catchy.

Film ini berkisah tentang Mada (Abimana Aryasatya), seorang pria yang memberontak kepada Tuhan dan orangtuanya atas takdir yang ia terima. Merasa kecewa, Mada memilih untuk berkelana ke Thailand dan hidup bebas sebagai backpacker. Selama di Thailand, Mada tinggal bersama Marbel(Laudya Cynthia Bella), pemijat asal Indonesia. Namun, kehidupan Mada di Thailand berujung pada sebuah masalah besar yang memaksanya untuk kabur ke Vietnam.

 

Tanpa uang yang cukup, Mada terpaksa bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di Vietnam, sebelum akhirnya dengan cara yang tidak terduga sampai ke China dan bertemu dengan Suchun (Laura Basuki), gadis muslim yang merupakan anak dari Imam dari Masjid di Desa tersebut. Pertemuannya dengan Suchun lah yang menjadi titik balik kehidupan Mada.

Lalu apa yang menyebabkan Mada begitu kecewa pada Tuhan?

Jujur, film ini jauh dibawah ekspektasi saya. Konflik yang dihadirkan di film ini terasa kurang dalam. Selain itu, perjalanan Mada untuk mencapai Mekkah pun terkesan lancar-lancar saja bak Bundaran HI pada pukul 02.00 pagi.

Sekali lagi, Danial Rifki gagal memenuhi ekspektasi saya, sebelumnya La Tahzan (2013) pun terkesan hambar. Kualitas akting seluruh pemainnya lah yang menyelamatkan film ini. kredit pantas diberikan kepada Abimana Aryasatya, Dewi Sandra (Sofi), Laudya Cynthia Bella, dan Laura Basuki . Beberapa adegan yang ditampilkan pun untungnya cukup memorable, seperti ketika Mada harus membaca Al-Quran demi menyelamatkan nyawanya sendiri, serta ketika Mada tiba di pemakaman para jamaah haji. Porsi dari Suchun dan Marbel seharusnya lebih besar ketimbang hanya menjadi 'pelengkap; dari perjalanan Mada menuju Tanah Suci). Sebagai Road Movie semi religi, film ini masih layak ditonton karena ada banyak kutipan yang menarik. Setidaknya pesan yang hendak disampaikan masih bisa dicerna dengan baik oleh khalayaknya.
 
(+) Pemandangan indah tiap negara yang berhasil ditampilkan
(+) Kualitas akting dari Abimana Aryasatya yang mumpuni

(+) Laura Basuki
(+) Dewi Sandra yang Subhanallah

(-) Kebanyakan timelapse yang membuat bosan
(-) CGI balon udara yang mengingatkan saya kepada kualitas grafis dari Suikoden (PSX)
(-) Ending, gitu doang woy?